Minggu, 22 Mei 2016

Aku Malu..



Aku malu...

Suatu saat aku akan menjadi sukses dengan kemudian mempunyai harta yang cukup untuk melakukan apa yang aku inginkan.

Aku akan memastikan calon kekasihku tanpa ragu menikahiku. Itu adalah saat dimana aku akan menunjukan rasa cinta yang sesungguhnya. Memastikan tempat kami menikah nanti adalah tempat yang paling dia inginkan untuk upacara sekali seumur hidup itu. Dengan gaun pilihannya yang sangat indah, warna putih atau mungkin merah jambu. Dia sangat suka warna merah jambu. Dia harus merasa bahwa pada hari itu dia adalah wanita paling cantik sejagat raya, dan aku adalah orang yang paling beruntung bisa bersamanya selama yang diijinkan Tuhan kami. Pokoknya, dia tidak boleh ragu ketika akan menikahiku.

Selanjutnya, setelah kami menikah, kurasa aku akan bersedia untuk menemaninya ketempat manapun yang ia suka. Ke cafe favoritnya, dimana di situ, dia sempat bercerita bahwa kopinya sungguh nikmat dan dia selalu ingin kembali ke tempat itu. Atau ke toko buku favoritnya. Aku yakin dia akan sangat lama menghabiskan waktu di bagian novel yang bergenre romance. Meskipun romance bukanlah novel untuk genreku, tapi aku rasa, saat itu mungkin aku sudah lupa yang mana yang favoritku, dan yang mana yang bukan. Karena dia dan seluruh perilaku, watak, dan juga kenanganku padanya mungkin sudah menjadi satu-satunya perempuan yang akan kusebut sebagai, “My Favorite Things”.
Aku tidak mungkin lupa bahwa dia adalah orang yang begitu mendambakan untuk pergi ke luar negeri–berlibur, dan dia juga pecinta Harry Potter. Mengapa ini berhubungan. Bagaimana dengan pergi ke luar negeri dimana disana terdapat “Hogwart School”, semacam tempat tiruan dari film Harry Potter, dimana dia belajar sihir. Dia pasti akan menyukainya.

Ice Cream, kurasa aku akan senang untuk membelinya sekaligus banyak, sehingga selalu tersedia di kulkas di rumah kami nanti. Dia akan bisa terus memakannya, jika dia mau. Tetapi Ice Cream itu tidak cukup sehat, jika dilihat dari nilai kandungan gulanya. Dia pasti akan naik berat badannya jika terus memakan itu setiap hari, bukan? Tapi tidak mengapa, “Tak peduli, berapakah berat badanmu nanti. Kau tetap yang termuuaah di hati”,  itu kutipan lirik lagu band favoritku, Sheila On 7. Aku yakin dia suka Ice Cream. Mungkin karena aku lupa atau tidak tahu, perempuan mana yang tidak menyukai Ice Cream. Berat badannya tidak akan jadi masalah bagiku nanti.

Dia juga pasti sangat senang jika kami bisa melanjutkan kuliah. Dia bermimpi jadi Psikolog. Bagaimana jika kami bisa kuliah di tempat yang sama, meskipun jurusannya berbeda, tetapi itu akan sangat menyenangkan. Pergi kemanapun di bagian kampus itu bersama-sama. Tentu saja bukan saat terdapat jam kuliah. Maksudku adalah pada saat jam kosong kami bisa pergi ke perpustakaan bersama, tentu kampus ini harus mempunyai reputasi perpustakaan yang bagus, lengkap, nyaman, pokoknya semua yang didambakan oleh seorang pembaca atau mahasiswa yang tengah mencari referensi. Atau pergi kekantin bersama. Meskipun pesanan kami berbeda, kurasa makan bersama dengannya akan sangat menyenangkan. Mungkin aku akan gombal ketika bilang bahwa, “melihatnya makan saja sudah membauatku kenyang, lahir dan batin”, tetapi tentu saja itu tidak mungkin. Mungkin aku memang gombal. Hahaha. Jangan lupa tentang pergi berangkat dan pulang bersama saat kuliah. Aku sulit membayangkan hal seindah itu.

Aku sudah tidak bisa lagi membayangkan apa yang akan kami lakukan setiap hari. Itu mungkin adalah hal yang paling menyenangkan yang bisa terjadi di dunia.

Aku malu...

Aku meneliti semua rencanaku, meneliti semua yang akan aku lakukan. Ternyata temanku, aku lupa menaruh rencana-rencana tentang orang tuaku.

...
...
...
...
...
...

Aku malu. Bagaimana mungkin, dua sosok manusia paling berjasa atas semua kebaikan dan kesuksesan yang terjadi padaku tidak masuk dalam rencana-rencana setelah aku sukses?

Merenungkannya membuatku yakin bahwa, mereka itu sudah lupa kapan terakhir kali tidak menempatkanku dalam prioritas mereka, melebihi diri mereka sendiri. Dan sekarang, aku tengah bermimpi untuk tidak sama sekali menyertakan mereka dalam prioritasku.

Bagaimana mungkin mereka yang begitu peduli, melahirkan dan membesarkan seorang anak yang bahkan tidak rela bermimpi hidup dengan sukses bersama mereka?

Bagaimana bisa aku lupa untuk menyediakan semua yang mereka butuhkan, padahal tanpa ditanya saja, mereka tanpa merasa susah sedikitpun, akan membuatku terpenuhi seluruh yang kubutuhkan, dengan di saat yang bersamaan, mereka hanya mengambil seperlunya untuk diri mereka sendiri?

Bagaimana mungkin aku lupa bahwa mereka juga senang untuk pergi berlibur? Mungkin berlibur ke Makkah dan Madinah untuk Haji, atau setidaknya Umroh bagi mereka sudah lebih dari cukup. Tapi, bagaimana mungkin hal itu tidak tertulis dalam daftar rencanaku?

Aku lupa untuk menuliskan pergi ke tempat makan yang mereka suka. Aku akhirnya berpikir, mereka pasti memiliki tempat dambaan untuk mereka makan. Dengan menu-menu yang mereka suka. Aku sekarang yakin, mereka itu punya keinginan itu, hanya saja sungkan bagi mereka untuk membuatku repot. Mereka yang begitu menjaga perasaanku, bagaimana mungkin tidak kujaga perasaannya?

Belakangan aku sadar. Mereka tidak akan pernah memintaku untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Apalagi memaksa, itu tidak akan pernah ada pada kamus mereka. Kurasa, mereka itu sudah terlalu lupa dengan jasa mereka sendiri, sehingga sama sekali merasa tidak berhak untuk dibalas budinya. Tapi anak ini, seorang yang begitu durhaka, tega untuk tidak mengingat barang sedikit saja apa yang telah mereka lakukan dulu. Terlalu berlebihan jika menggap anak itu akan membalas jasa orang tuanya.

Aku heran...

Sebegitu mudahkah bagi seorang anak untuk lupa orang tuanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar