Aku malu...
Suatu saat aku akan menjadi
sukses dengan kemudian mempunyai harta yang cukup untuk melakukan apa yang aku
inginkan.
Aku akan memastikan calon
kekasihku tanpa ragu menikahiku. Itu adalah saat dimana aku akan menunjukan
rasa cinta yang sesungguhnya. Memastikan tempat kami menikah nanti adalah
tempat yang paling dia inginkan untuk upacara sekali seumur hidup itu. Dengan
gaun pilihannya yang sangat indah, warna putih atau mungkin merah jambu. Dia
sangat suka warna merah jambu. Dia harus merasa bahwa pada hari itu dia adalah
wanita paling cantik sejagat raya, dan aku adalah orang yang paling beruntung
bisa bersamanya selama yang diijinkan Tuhan kami. Pokoknya, dia tidak boleh
ragu ketika akan menikahiku.
Selanjutnya, setelah kami
menikah, kurasa aku akan bersedia untuk menemaninya ketempat manapun yang ia
suka. Ke cafe favoritnya, dimana di situ, dia sempat bercerita bahwa kopinya
sungguh nikmat dan dia selalu ingin kembali ke tempat itu. Atau ke toko buku
favoritnya. Aku yakin dia akan sangat lama menghabiskan waktu di bagian novel
yang bergenre romance. Meskipun romance bukanlah novel untuk genreku, tapi aku
rasa, saat itu mungkin aku sudah lupa yang mana yang favoritku, dan yang mana
yang bukan. Karena dia dan seluruh perilaku, watak, dan juga kenanganku padanya
mungkin sudah menjadi satu-satunya perempuan yang akan kusebut sebagai, “My
Favorite Things”.
Aku tidak mungkin lupa bahwa dia
adalah orang yang begitu mendambakan untuk pergi ke luar negeri–berlibur, dan
dia juga pecinta Harry Potter. Mengapa ini berhubungan. Bagaimana dengan pergi ke
luar negeri dimana disana terdapat “Hogwart School”, semacam tempat tiruan dari
film Harry Potter, dimana dia belajar sihir. Dia pasti akan menyukainya.
Ice Cream, kurasa aku akan senang
untuk membelinya sekaligus banyak, sehingga selalu tersedia di kulkas di rumah
kami nanti. Dia akan bisa terus memakannya, jika dia mau. Tetapi Ice Cream itu
tidak cukup sehat, jika dilihat dari nilai kandungan gulanya. Dia pasti akan
naik berat badannya jika terus memakan itu setiap hari, bukan? Tapi tidak
mengapa, “Tak peduli, berapakah berat badanmu nanti. Kau tetap yang termuuaah
di hati”, itu kutipan lirik lagu band
favoritku, Sheila On 7. Aku yakin dia suka Ice Cream. Mungkin karena aku lupa
atau tidak tahu, perempuan mana yang tidak menyukai Ice Cream. Berat badannya
tidak akan jadi masalah bagiku nanti.
Dia juga pasti sangat senang jika
kami bisa melanjutkan kuliah. Dia bermimpi jadi Psikolog. Bagaimana jika kami
bisa kuliah di tempat yang sama, meskipun jurusannya berbeda, tetapi itu akan
sangat menyenangkan. Pergi kemanapun di bagian kampus itu bersama-sama. Tentu
saja bukan saat terdapat jam kuliah. Maksudku adalah pada saat jam kosong kami
bisa pergi ke perpustakaan bersama, tentu kampus ini harus mempunyai reputasi
perpustakaan yang bagus, lengkap, nyaman, pokoknya semua yang didambakan oleh
seorang pembaca atau mahasiswa yang tengah mencari referensi. Atau pergi
kekantin bersama. Meskipun pesanan kami berbeda, kurasa makan bersama dengannya
akan sangat menyenangkan. Mungkin aku akan gombal ketika bilang bahwa,
“melihatnya makan saja sudah membauatku kenyang, lahir dan batin”, tetapi tentu
saja itu tidak mungkin. Mungkin aku memang gombal. Hahaha. Jangan lupa tentang
pergi berangkat dan pulang bersama saat kuliah. Aku sulit membayangkan hal
seindah itu.
Aku sudah tidak bisa lagi
membayangkan apa yang akan kami lakukan setiap hari. Itu mungkin adalah hal
yang paling menyenangkan yang bisa terjadi di dunia.
Aku malu...
Aku meneliti semua rencanaku,
meneliti semua yang akan aku lakukan. Ternyata temanku, aku lupa menaruh
rencana-rencana tentang orang tuaku.
...
...
...
...
...
...
Aku malu. Bagaimana mungkin, dua
sosok manusia paling berjasa atas semua kebaikan dan kesuksesan yang terjadi
padaku tidak masuk dalam rencana-rencana setelah aku sukses?
Merenungkannya membuatku yakin
bahwa, mereka itu sudah lupa kapan terakhir kali tidak menempatkanku dalam
prioritas mereka, melebihi diri mereka sendiri. Dan sekarang, aku tengah
bermimpi untuk tidak sama sekali menyertakan mereka dalam prioritasku.
Bagaimana mungkin mereka yang
begitu peduli, melahirkan dan membesarkan seorang anak yang bahkan tidak rela
bermimpi hidup dengan sukses bersama mereka?
Bagaimana bisa aku lupa untuk
menyediakan semua yang mereka butuhkan, padahal tanpa ditanya saja, mereka
tanpa merasa susah sedikitpun, akan membuatku terpenuhi seluruh yang
kubutuhkan, dengan di saat yang bersamaan, mereka hanya mengambil seperlunya
untuk diri mereka sendiri?
Bagaimana mungkin aku lupa bahwa
mereka juga senang untuk pergi berlibur? Mungkin berlibur ke Makkah dan Madinah
untuk Haji, atau setidaknya Umroh bagi mereka sudah lebih dari cukup. Tapi,
bagaimana mungkin hal itu tidak tertulis dalam daftar rencanaku?
Aku lupa untuk menuliskan pergi
ke tempat makan yang mereka suka. Aku akhirnya berpikir, mereka pasti memiliki
tempat dambaan untuk mereka makan. Dengan menu-menu yang mereka suka. Aku
sekarang yakin, mereka itu punya keinginan itu, hanya saja sungkan bagi mereka
untuk membuatku repot. Mereka yang begitu menjaga perasaanku, bagaimana mungkin
tidak kujaga perasaannya?
Belakangan aku sadar. Mereka
tidak akan pernah memintaku untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Apalagi
memaksa, itu tidak akan pernah ada pada kamus mereka. Kurasa, mereka itu sudah
terlalu lupa dengan jasa mereka sendiri, sehingga sama sekali merasa tidak
berhak untuk dibalas budinya. Tapi anak ini, seorang yang begitu durhaka, tega
untuk tidak mengingat barang sedikit saja apa yang telah mereka lakukan dulu.
Terlalu berlebihan jika menggap anak itu akan membalas jasa orang tuanya.
Aku heran...
Sebegitu mudahkah bagi seorang
anak untuk lupa orang tuanya?